Saat ini, tantangan Indonesia ada pada sebagian masyarakat yang menuntut liberalism yang berupa freedom of speech, termasuk memanipulasi informasi. Menurut Prof. Rhenald Kasali PhD, dengan kehadiran teknologi menjadikan informasi semakin mudah tersebar, banyak timbul narasi-narasi melalui big

“Perang narasi terjadi karena ada enam pilar teknologi mengubah kehidupan menjadi. Mulai dari super apps yang merupakan sebutan bagi aplikasi dengan pengunggah diatas 100 juta, lalu muncul istilah broadband network yang dapat mengubah kebiasaan manusia dalam mengakses informasi. Hal ini disebabkan karena adanya Big Data yang pada akhirnya bermuara pada Internet of Things, sehingga ini berpengaruh pada cara kita mendapatkan informasi,” katanya saat menjadi pemateri dalam Kuliah Umum bertajuk “Merancang Komunikasi Strategis Menghadapi Dampak Perubahan Teknologi di Masa Pandemi dan Pasca Pandemi” yang diselenggarakan oleh Program Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP secara virtual, (24/11/2020).

Artinya, saat ini terjadi perang narasi terkait pandemi di media sosial Indonesia. Peredaran informasi yang tidak terkendali, ditambah lagi sebagian masyarakat tidak punya kecerdasan memvalidasi kebenaran, membuat keputusan terkait kesehatan yang baik menjadi kabur. Menjadikan, pemberitaan saat ini hanya berfokus pada pihak-pihak yang dipojokkan sehingga informasi yang disebarkan lebih membingkai kearah ketakutan.

Ia berpesan, sangat perlu merancang komunikasi yang tepat bagi masyarakat kita yang multikultur, jangan sampai terjebak pada perang narasi. Sebagai akademisi, kita harus cermat dalam menentukan cara berkomunikasi kita di tiap kelompok masyarakat, apakah harus menggunakan pendekatan hard power atau soft power agar masyarakat mengerti apa yang kita pikirkan dan masyarakat melakukan apa yang kita inginkan.